JILBAB PERTAMAKU- Jawaban dari pertanyaanku

Jawaban dari Pertanyaanku



Saat itu awal semester di kelas 3 SMU, Rasanya seolah baru menghembus udara bebas untuk pertama kalinya. Tiba di depan pintu gerbang sekolah, aku tersenyum. Rasanya.. sebuah perjalanan, suka, duka, cinta,persahabatan akan kembali aku alami kembali setelah satu bulan liburan. Langkahku terasa ringan, mungkin juga karena saat itu aku punya penampilan baru.
Rambutku…
“AAAA…” teriak teman-temanku saat aku masuk kelas. Aku tak peduli tentang teriakan mereka. Buru-buru aku meletakkan tasku dimeja, dan tidak ada satu menit kemudian aku sudah ada di kelas IPA 1 kelasnya Umi, sahabat karibku. Sayangnya, aku tak mendapatinya dengan rambut hitam panjangnya yang sering diurai. Yang tertangkap oleh lensa mataku adalah seorang gadis anggun dengan jilbab putihnya yang tertata rapi. Senyumnya yang khas menyadarkanku bahwa dia adalah gadis yang selama ini menjadi sahabat karibku. Yah… Umi.
Aku langsung menghampirinya, tak peduli banyak teman yang say hello padaku sembari mengomentari rambut baruku. Aku hanya melempar senyum ke arah mereka, dan meluncur kearah sahabatku itu.
“Umi?” kataku agak shock, dia hanya menjawab dengan senyumnya. Aku semakin gemas dibuatnya. “ Hei, kamu kenapa? Mana rambut panjangmu?”
“Kamu juga mana rambut panjangmu? Dia balik bertanya padaku.
“Hehe… pengen penampilan baru aja” kataku nyengir sambil sedikit mengacak-acak rambut model Agnes Monica yang saat itu lagi santer-santernya. “Lebih keren kan? Lha kamu… kok sekarang pake jilbab segala sich? Wah…nggak asyik akh. “ terus terang aku agak kecewa juga melihat Umi dengan penampilan barunya. Dia memang anak Rohis (Rohanisasi Islam) dari kelas satu SMA, walaupun saat itu ia masih nggak pake jilbab. Nggak tahu kenapa ia memutuskan untuk memakainya saat kelas tiga.

"Cari Eka ma Cici yuk! Kataku sembari menggandengnya".
Aku, Umi, Eka dan Cici adalah 4 sekawan (hehe), waktu kelas satu dan dua kami selalu satu kelas. Tidak tahu kenapa, kelas 3 SMA kelas kami terpencar, mungkin untuk mengurangi komunitas bergosip. Kami kan doyan banget buat gossip.
Eka postur tubuhnya paling kecil diantara kami, tapi ia paling jago soal Bahasa Inggris (saat kelulusan SMA, dia dapat nilai sempurna), kalau Cici, lain lagi ceritanya, dia adalah Cewek yang pinter banget, Sampai Ikut Olimpiade Kimia tingkat nasional di Riau (Uang hadiahnya yang berjuta-juta dipake buat nikah waktu lulus SMA)- dia saingan beratku saat kelas satu dan dua SMA, kalau nggak dia yang dapet peringkat satu, pasti aku, pernah di semester 3 nilai kami persis sama. Cici paling doyan pacaran, diantara kami berempat Cuma dia yang pacaran. Sama teman kami sekelas waktu kelas satu SMA, yah tentu saja, Cici yang nembak duluan. Aku, Eka dan Umi setia dengan status Jomblo sejati. Gila nggak tuh! Kalo Umi, dia Sembodro nya grup kami. Paling suka diem, lemah lembut banget dech. Tapi nggak tahu kenapa, sikapnya yang paling beda itu seolah bumbu pelengkap yang akan terasa hambar kalau tidak ada.
dan aku,
panggil saja -AKU-

Seperti biasa Aku bertemu Eka di depan IPA 3, kami duduk di bangku depan kelasnya, Cici Nampak berlarian dari pintu gerbang sekolah, aku sangat yakin pasti ia menuju kami. Tidak ada yang berubah dari penampilan Eka setelah liburan kemaren, kalau Cici, dari kejauhan sudah bisa ditebak, Rambutnya diRebonding. Wah ia Nampak semakin cantik saja. Kenapa Umi nggak rebonding rambut ja sich, pasti lebih keren kayak Cici. Pikirku saat itu.
Seperti biasa, seolah sudah sepuluh tahun tidak ketemu, berteriak histeris dan tentu saja kami ngobrol banyak tentang masa liburan. Sampai akhirnya…
“Umi, kenapa dah pake jilbab sekarang sich?” Cici mulai bertanya pada Umi.
“Iya nih, Kita kan pernah janji mo pake jilbabnya ntar lulus SMA ja!” Eka ikut nimbrung
“Ntar aneh dong kalau 4 sekawan ada yang pake jilbab, dikirain dah tobat” Aku menimpali.
Selalu diawali dengan senyumnya yang khas itu Umi menjawab.
“Tadinya aku pengin sekali pake jilbabnya ntar waktu lulus SMA aja, bareng kalian, tapi… aku takut…”
“takut apa? Da yang maksa kamu buat pake jilbab sekarang ya! Pasti deh anak-anak Rohis! Ntar biar aku ngomong ma mereka!” kataku sudah mulai terbakar.
“ Bukan…bukan itu…”
“lalu?”
“Aku takut….Umurku nggak nyampe!”

--cep---
Hening sejenak….


“Tenang Um, pasti nyampe kok”! kataku menghibur.
“Nggak ada yang bisa jamin apa kita masih hidup nanti waktu lulus, atau jangan-jangan hari ini adalah hari terakhir…Aku nggak mau menunda-nunda lagi!”
“Lagipula dengan pakai jilbab aku mendapatkan jawaban yang selama ini aku cari?”
“Emang apaan?”
“Kalian pernah bilang kan, kalau sering kebingungan dengan dandanan yang kita pake kalau kita pergi ke Mall…atau tempat-tempat lain?”
“Iya, Aku sering bingung buat cari baju yang cocok, dan rasanya adaaaa aja yang kurang dari penampilanku. Rambut ini juga hasil kebingunganku itu.” Kata Cici
“Iya, kalau aku…sering merasa ada yang kurang-entah apa- aku juga belum tahu sampai sekarang.” Kataku sambil teringat betapa susah dan merasa tidak nyaman pergi jalan-jalan dengan penampilanku.
“Emang apa jawabannya….” Kata Eka penasaran
“JILBAB” kata Umi dengan senyum manisnya yang masih aku ingat jelas sampai saat ini.
Akhirnya, Aku memakai Jilbab lebih cepat dari rencana awal. Walaupun tidak langsung saat itu, setidaknya sejak mendengar kata-kata Umi itu, aku selalu memikirkannya. Jangan-jangan memang ini hari terakhirku-tak ada yang tahu kan? Alhamdulillah bapak Ibu bisa kufahamkan, tentunya dengan cara yang halus, Yang paling geger adalah Bulekku, beliau tidak suka kalau aku pake Jilbab. Tapi, bukankah lebih baik dibenci orang lain di dunia dari pada dibenci ALLAH kan? Lama-lama Bulek juga senang kok dengan perubahanku. Intensitasku untuk banyak berinteraksi dan bercanda dengan teman cowok mulai kukurangi. Aku sama sekali tidak merasa canggung, benar kata Umi, jawaban dari kegelisahanku selama ini memang jilbab.



Mulanya, aku juga sempat protes dan merasa tertekan, kenapa ini nggak boleh, itu nggak boleh, tapi akhirnya aku menyadari, bahwa Islam sangat menghargai wanita, bagaimana tidak? Hampir semua permasalahan wanita semua ada jawabannya dan kalau teman-teman cermati semua peraturan dibuat dalam islam semata-mata untuk menjaga kehormatan wanita. Nggak percaya? Silakan dibuktikan.
Sekarang Umi kuliah di Kebidanan Kudus, Cici…Seperti yang kubilang, ia menikah setelah lulus SMA, Tapi ia selalu menyemangatiku dan bilang padaku untuk tidak kalah dengan apapun, untuk terus melanjutkan Cita-cita, jangan sampai berhenti belajar seperti yang dialaminya selama satu tahun pasca SMA, Sekarang ia tengah sibuk dengan kursus Jahitnya. Apapun yang terjadi jangan pernah berhenti belajar katanya. Eka? Dia jadi Akhwat di Universitas Negeri Semarang, Walaupun dalam proses perjalanannya, sangat sulit melepas Lagu-lagu Barat yang jadi makanan pokoknya saat SMA.
Dan Aku…
Alhamdulillah, masuk Universitas Diponegoro lewat Jalur Prestasi, tinggal di pondok kecil Naylufar. Di sini aku belajar banyak, tentang fitrah wanita dan indahnya Islam dan berjanji pada diri sendiri untuk selalu lebih baik. Serta berjuang untuk Istiqomah, Bukankah Istiqomah itu perlu perjuangan dan diperjuangkan?
Buat temen-temen yang sering merasa tidak nyaman dalam berpenampilan dan selalu ada yang terasa kurang….Boleh jadi itu adalah JILBAB. “SELAMAT MENCOBA!!”
“Dengan semangat berbagi”


--AKU--
-Naylufar-
Juara 2 lomba menulis tentang jilbab pertama 2008
se-kota Semarang
Semoga bermanfaat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANJI ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

JEJAK LANGKAH KAKI LELAKIKU