AUSTRALIA oh AUSTRALIA - 2nd EPISODE


Timing Interview:



**
Hari terakhir saya interview ADS dapat urutan terakhir. Harusnya saya urutan ke dua dari yang terakhir. Tapi partisipan terakhir kebetulan tidak datang (mungkin karena mendapatkan beasiswa lain), jadilah saya yang terakhir. Hehe
Satu, dua partisipan sudah masuk, sambil menunggu giliran, ada banyak cerita yang saya dapat.
Cerita pertama :
Yah, kita saya mencoba membuat SWOT (Strength Weakness Opportunity and Threat) tentang posisi saya yang paling akhir:
Strength : saya bisa prepare diri saya, secara gituh…karena saya masih lama interviewnya, jadi saya bisa maen-maen dulu sesuka saya, makan sekenaknya dan lain lain . yang jelas untuk buat saya fun. 

Weakness: masalahnya itu begini ini… kalau saya mau interview ataupun hal penting yang mendebarkan, muncullah mekanisme koping yang kurang bagus. Yaitu perut mules…krues..krues… saya menemukan tanda yang sama pada mas Eko. Dia juga ternyata memiliki gejala yang sama (baca: perut mules menjelang “Sesuatu”) – dan benar saja, saya hitung sampai 4 kali saya ke kamar mandi menjelang timing interview. Entah mau BAK maupun BAB. Hedeeuhh.

Opportunity : Alhamdulillah, (sebaiknya Alhamdulillah atau gimana ya) ada teman satu orang yang tidak datang, yg urutan setelah saya ternyata benar tidak datang, jadi setidaknya kesempatan kami berkompetisi berkurang satu. Saya sich berdoanya semoga yang bersangkutan mendapatkan hal yang luar biasa—maksud saya bukan karena sakit atau apa…. Semoga Allah menyediakan yang baik untuknya. Amin.

Threat: Wah..kalau poin yang ini benar-benar membuat adrenalin meningkat dech, tapi untungnya saya sudah punya pengalaman interview beberapa kali. walaupun bukan interview buat master degree, tapi short course..jadi nggak begitu mengancam banget. Di poin ini ada beberapa list:
Sebagaimana biasa..proses tunggu interview, pasti kita akan banyak berkenalan dengan para candidate beasiswa yang berada dalam waiting list interview. Timing seperti ini bisa menjadi sebuah Opportunity untuk kita memperluas jaringan (hobi gue banget) - nambah kenalan baru. Nomor Hp sudah tercatat. Tinggal memperdalam perkenalan untuk mengenal lebih dekat. :P

Wah, dari percakapan yang panjang kali lebar kali tinggi, didapatkan banyak kesimpulan…
Intinya: saya yakin yang mendapat panggilan untuk Interview ADS adalah mereka yang luar biasa.. yang tidak mendapatkan panggilanpun saya yakin sekali mereka juga luar biasa, karena kemaren saya sempat membaca sebuah milist beasiswa, dan di situ disampaikan ada beberapa orang yang merasa kecewa dengan beasiswa ADS karena yang bersangkutan sudah memenuhi persyaratan, IELTS 7, Letter of Acceptance dari universitas yang dituju sudah ada, pekerjaan sebagai lecturer di Universitas terkemuka di Indonesia, intinya semua persyaratan beliau sudah kantongi, tapi ternyata untuk interview-pun beliau tidak mendapatkan panggilan. Dari sini saya yakin sekali bahwa mereka yang tidak masuk 750 kandidat yang diinterview-pun adalah merek yang luar biasa. Hanya saja mungkin pihak beasiswa ADS memiliki hak prerogative dan ketentuan dalam pemilihan criteria kami yang mendapatkan panggilan interview. DI sini, peran Allah memiliki arti yang luar biasa, mereka yang biasa saja seperti saya ini, ternyata mendapatkan panggilan interview. Berarti itu adalah kuasa Allah. Tidak ada kekuatan yang mampu melebihi kehendakNya.
Yah, saya jabarkan beberapa poin penting lainnya ya..ini tentang Track Record para candidate yang saya rekam dengan Natural Shooting Camera saya alias My Beautiful Eyes :D.


Pertama : Mbak IIn dan Mbak Alvi.

Dua-duanya dari kedokteran. Mbak Alvi ambil program PhD, kalau mbak IIn ambil Master. Ini berarti mbak Alvi secara alamiah bukan saingan saya yang mengejar master. (:P). Wah, kalau mbak Iin ni dari kedokteran, pastinya Cool dah tu. Kalau saya dan mas Eko memiliki kebiasaan perut mules dank rues-krues menjelang “sesuatu” beda kasussnya dengan mbak Iin yang lebih suka menggigiti kuku jarinya. Sangat recommended sekali untuknya dalam proses pemedekan kuku tanpa menggunakan gunting kuku. Menjelang “sesuatu” sudah bisa dipastikan bahwa kukunya akan bersih terpotong, bukan oleh tajamnya gunting kuku, tapi oleh tajamnya GIGI. :P

Kedua: Mas Eko/ SW,
Waktu dia cerita Toeflnya yang 560, saya mak “Jleb” – Minder maksude. Tapi saya sudah banyak pengalaman, jadi tidak kaget. Kalau mas Eko lolos, wajar – karena Toeflnya bagus.. dengan demikian IELTSnya juga kemungkinan besar bagus. Tapi kalau untuk masalah seperti ini saya tidak begitu kuatir (Walaupun terus terang saya HDR/ Harga Diri Rendah T_T).
Saya teringat dengan peristiwa 3 tahun yang lalu. Saat saya menghadapi interview untuk short course beasiswa ke Amerika. Kala itu di waiting list, saya juga bertemu dengan bermacam candidate. Ada yang Toeflnya 530, bahkan ada yang 580, sedangkan saya hanya 453. (toefl saya hanya 3 poin lebih dari ketentuan beasiswa yaitu 450). Dan lagi lagi – kuasa Allah mengalahkan segalanya. Saya malah lolos sendiri sedangkan yang lain dengan Toefl yang tinggi tidak masuk dalam beasiswa tersebut.
Intinya, Allahlah yang pemegang keputusan. Apapun hasilnya nanti,, kita pasrah ma Allah. Allah tahu yang terbaik untuk kita. Tapi doa saya tetap.. semoga Mas Eko lolos, saya tahu ini adalah salah satu rangkaian mimpinya, begitu juga dengan saya… semoga kita lolos ya mas..kalaupun salah satu diantar kita yang lolos, saya tetap yakin bahwa itu adalah ketetapan dari Allah, yang terbaik dari Allah. Jadi insyaAllah kalau mas SW yang lolos saya tetap Alhamdulillah... Segala puji bagi Allah sang pembuat ketetapan bagi hambanya. Pasti ada jalan yang sudah Allah tetapkan untuk kita. Betul begitu mas SW? :D

Mas Eko ni sempat mules2 juga sebelum interview, begitu interview selesai, beliau tampak lega dan dengan wajah sumringah. Intinya saya bisa membaca dengan jelas di wajahnya. I did it. Begitulah kira-kira. Tapi untuk hasil seperti biasa, kita hanya bisa pasrah.

Okeh, selanjutnya

Ketiga: Pak Michael
Beliau saat cerita saya akhirnya tahu kalau beliau mengambil program PhD, dan ternyata beliau sepupu dari pak rector UNDIP..hahaha…. dunia memang selebar daun kelor ya.. :D
Karena penelitian beliau yang menarik, proses interview beliau-pun memakan waktu hampir satu jam. Wah..wah..wah..sudah sinyal kalau beliau bakal diterima nich. Bisikku. AMinnn.

Ke-Empat : Mas Faruq
Kalau mas Faruq, saya baru tahu kalau beliau ternyata tinggal di kota yang sama dengan saya – SEMARANG- dan di lokasi yang sama yaitu TEMBALANG, saat saya nebeng mobil beliau menuju tempat pemberhentian bus… ehmmm..lebih tepatnya, beliau yang menawari saya naik bus, saya dan mbak Alvi maksud saya. Mas Faruq sempat cerita kalau beliau punya rumah di Semarang dan di Jogja. Karena project beliau, jadi beliau sangat mobile gitu deh… hohoho…
Mas Faruq ikut kategori interview untuk ALAS (selain mbak Iin), saat beliau keluar ruang interviewer, beliau sempat cerita tentang “Mavia Project”-nya yang menjadi perbincangan seru saat proses interviewe, itulah alas an kenapa proses interview beliau juga agak lama 

Kelima: Mbak Ratih.
Setelah ngobrol ngalur ngidul dengan lulusan Hubungan Internasional UNPAD bandung ini, ternyata mbak Ratih ini satu tahun di atas saya (dia 2004) saya angkatan 2005, dan tetangga kabupaten. Walah2.. wong Pantura jebule..hehehe..dia dari kudus, saya dari pati, tetangga pas…. Kalau dari semarang menuju pati, anda pasti akan melewati Kudus terlebih dahulu, baru kemudian Pati. Wah..seang rasanya ketemu tetangga..hehehe..tapi kerjanya mbak Ratih ni di Purwodadi.  Kalau mbak ratih, sempat menceritakan Temannya yang TOEFLnya 630 (Busyetttt..to TOEFL atau apa?). saya yakin sekali kalau mbak Ratih pasti juga kurang lebih sama dengan rekannya. Kurang lebihnya pasti begitu walaupun beliaunya tidak secara gamblang mengatakan jumlah TOEFLnya. But I can read it well in her eyes.. haha..gubrak:P

Ke Enam: Mbak Rini:
Beneran, di poin ini saya belajar hal luar biasa dari seorang mbak Rini. Bayangkan saja, Ketika ia cerita tentang kisahnya mengejar beasiswa, saya langsung berkata pada diri saya sendiri “kamu belum apa-apa Ndri!”.
Mbak Rini kalau saya tidak salah, 5 tahun lebih dari usia saya. Dia sudah banyak makan garam tentang beasiswa. Dari beasiswa Amerika AED yang sudah 2 kali ia ikuti (baca 2 tahun), tapi tidak mendapatkan panggilan interview sekalipun, beasiswa Belanda yang sudah 2 kali sampai tahap interview tapi gagal, serta beasiswa ADS yang tahun sebelumnya juga ia sudah sampai tahap interview seperti sekarang. Dan mbak rini sempat bilang ke kami (saat keluar dari ruang interview – selesai interview) – mbak Rini sudah pernah mengikuti interview ADS sebelumnya, jadi kalaupun sang interviewer senyam-senyum dan seolah menerima dan welcome dengan apa yang mbak Rini sampaikan, ia tidak kaget. Toh tahun sebelumnya juga Interviewernya tersenyum seolah puas dengan jawabannya, namun ternyata ia belum lolos ADS tahun kemaren. Jadi mbak Rini menganggap senyum para interviewer tak memiliki arti special, itu bisa diberikan kepada setiap candidate yang masuk ruang interview.
Ditambah lagi nich, ketika saya tahu perjuangan mbak Rini untuk meningkatkan nilai TOEFLnya.
Ia sudah berkali-kali ikut kursus TOEFL, baik yang umum, yang khusus, yang murah, yang mahal, ke Pare jawa timur untuk meingkatkan TOEFL sampai di lembaga kursus bahasa Inggris yang menawarkan harga selangit. Tapi tetap saja TOEFLnya tertinggi hanya 527. Beliau juga telah mengikti kursus IELTS dan sudah ikut tes IELTS sampai 3 kali, dan justru nilai IELTSnya yang tertinggi adalah tesnya yang ke 2, tesnya yang pertama dan yang ke tiga nilainya kurang memuaskan, padahal di tes yang ke tiga beliau telah ikut kursus tes IELTS sebelumnya, ternyata nilainya malah menurun.
Jadi di sini, saya merasa bersyukur. Tes TOEFL saya yang terakhir 513. Dan itu saya memang nggak pernah ikut kursus intensif, saya ambil kursus Inggris untuk Conversation bukan TOEFL, jadi saa masih beruntung, karena tak kursuspun masih bisa dapt nilai segitu, sebelumnya 507. Dan tak ada persiapan Toelf setiap kali ambil tes. Jadi ya..saya bersyukur, walaupun masih jauh dari target 550. Hahaa….

Intinya, saya banyak belajar dari rekan-rekan seperjuangan :D (Seperjuangan dalam WAITING LIST interview- maksudnya) :D

Okeh, selanjutnya, kisah tentang proses interview, akan saya jabarkan di PART 3 ya :D

TO BE CONTINUED ke PART 3 yak..hohohoho

*wah sudah mau pengumuman hasil ni, bismillah... Apapun hasilnya selalu berpositif thinking bahwa Allah tahu yang terbaik bagi kita.

Komentar

  1. this part cukup mengusik saya hehe
    "Kedua: Mas Eko/ SW,
    Waktu dia cerita Toeflnya yang 560, saya mak “Jleb” – Minder maksude. Tapi saya sudah banyak pengalaman, jadi tidak kaget. Kalau mas Eko lolos, wajar – karena Toeflnya bagus.. dengan demikian IELTSnya juga kemungkinan besar bagus. Tapi kalau untuk masalah seperti ini saya tidak begitu kuatir (Walaupun terus terang saya HDR/ Harga Diri Rendah T_T)." hal ini sama sekali tak bisa menjadi indikator karena sekali lagi peran Tuhan mutlak pada setiap kita, apalagi membaca yang ini nih "mbak Rini sudah pernah mengikuti interview ADS sebelumnya, jadi kalaupun sang interviewer senyam-senyum dan seolah menerima dan welcome dengan apa yang mbak Rini sampaikan, ia tidak kaget. Toh tahun sebelumnya juga Interviewernya tersenyum seolah puas dengan jawabannya, namun ternyata ia belum lolos ADS tahun kemaren. Jadi mbak Rini menganggap senyum para interviewer tak memiliki arti special, itu bisa diberikan kepada setiap candidate yang masuk ruang interview."...ouw ouw....mak jleeb!!!

    mas Faruq sebelumnya bertanya berapa TOEFL yg terakhir saya dapat, saya pun menjawab sekian (kalo gak tak jawab ya dosa nowh xixi) well itu memang angka terakhir yang dihadiahkan Tuhan untuk saya, tapi going back than, saya mulai dari angka 480 lo mbak:), saya yakin seiring waktu semua bisa berubah dan bertambah and FYI mbak Iin itu TOEFLnya malah 582 kalo saya masih inget waktu kami bertukar cerita di stasiun Tugu Yogyakarta kemaren itu
    terus lagi IELTS kemarin masih menyisakan sedikit terror terutama sekali listening partnya...taudah, pengen nyungsep ke kolong kasur kalo keinget lagi :(
    so mari setidaknya kita tetep harap harap cemas dengan apa yang akan tuhan hadiahkan pada kita di awal bulan depan yak :), i like this part "Segala puji bagi Allah sang pembuat ketetapan bagi hambanya. Pasti ada jalan yang sudah Allah tetapkan untuk kita" with skipping on part of IF ONLY YOU WERE SUCCESS AND I WERE NOT or IF ONLY I WERE SUCCESS AND YOU WERE NOT (kata semacam ini bikin sedih sekaligus takut, be positive) heheheuw

    BalasHapus
  2. Mas Eko yang baik... Saya jadi muali berfikir dengan tulisan saya yang itu yak..hohoho... saya juga berusaha be positif... dan saya sangat yakin mas Eko mendapatkan semua dengan proses... Untuk Toefl -- saat Mas Eko cerita, saya tidak punya fikiran apapun karena saya tahu mas Eko menyampaikannya karena terpaksa.. tuntutan karena saat itu memang ada yang asking.... hohoho

    Mas Eko, saya dan Mas Eko saya tarik sebuah benang merah sebagai berikut. Mencoba menyimpulkan gituh.. hehehe
    1. Kita memiliki mimpi yang sama, dalam artian, ingin belajar sesuatu yang baru dengan perjuangan.
    2. Sekaky be Positife thingking ya :)

    jikalau ada tulisan yang ternyata terkesan tidak mengenakkan atau apapun itu.. Indri insyaAllah tidak bermaksud demikian. saya faham sekali dengan kondisi dan bagaimana perjuangan kita semua yang tengah mengejar mimpi. Tentu tidak semudah yang terlihat, karena semua dengan perjuangan dan usaha yang luar biasa.

    So Mas tentang ni : IF ONLY YOU WERE SUCCESS AND I WERE NOT or IF ONLY I WERE SUCCESS AND YOU WERE NOT --> it is just for soecific case. karena kita tentu meyakini bahwa seseorang bisa jadi tidak sukses di satu hal tapi Allah menyiapkan area/ bidang lain dimana ia bisa sukses. jadi saya sangat meyakini kalau seseorang mungkin saja tidak SUccess di satu sisi, tapi ia sukses di sisi lain. Sebagaimana kita fahami bahwa SUKSES itu berbeda antara standar kita dengan ALLah. :)

    To sum up (kayak ringkasan aja nich) : Saya ingin tahu feeling mas setelah membaca note ini, kalau ada yang serasa tidak mengenakkan, saya perlu koreksi / refleksi diri karena bisa jadi maksud saya tidak demikian, tapi orang lain bisa mengartikan demikian.
    Maafiiinnnnn yaaa... benar-benar tidak ada maksud lain selain untuk saling memotivasi dan menjaga mimpi-mimpi kita :))
    Semoga Allah mempertemukan kita dalam suasana yang penuh berkah lagi suatu hari nanti. Aminnnnnnnn.... Semangattt mas Ekooo ^____^

    BalasHapus
  3. untuk poin Tentang Interviewer yang disampaikan mbak Rini, Saya juga sempat "Mak Jleb" ketika beliau menyampaikan bagaimana feedback interviewer. Yang jelas, mbak Rini sudah sering merasakan kegagalan proses beasiswa, jadi perjuangan beliau sangat luar biasa. dan pernyataan kenapa beliau tidak mau berkomentar dengan feedback interviewer itu adalah upaya beliau menenangkan diri untuk tidak banyak berharap (Saya belajar hal penting dari beliau tentang hal ini)- karena pengalaman beliau tahun sebelumnya yang ternyata tidak membuahkan hasil.

    Kita sama-sama saling belajar, ya Kan Mas Eko Senpai? :) dan beginilah dalam proses belajar, semua pengalaman teman bisa menjadi pembelajaran dan bekal penting untuk kita.

    setelah cerita-cerita dengan mbak Ratih dan Mbak Rini, kami bertiga malah sepakat untuk menerbitkan BUKU tentang perjuangan mendapatkan BEASISWA termasuk Ke-GALAUAN dalam menanti hasilnya... Ide yang unik dan spontan nich ..hehee... :)

    BalasHapus
  4. hahaha, mbak Indri sepertinya khawatir jikalau saya sedikit tersinggung, saya memakai kata "terusik" untuk mengekspresikan rasa gundah saya dengan beberapa point disini...tapi overall saya ini orang yang kokoh terhadap kata, (asalkan bukan bully, kalao di bully saya akan membalas dengan jauh lebih menyakitkan xixixixi)
    saya menikmati tulisan njenengan, yang saya coba sampaikan adalah emosi positivisme dan coba saya tularkan...semesta menjawab keinginan kita sesuai dengan harapan yang kita inginkan baik itu terselubung atau terang (kata orang-orang pinter sich hehe)jadi mengapa tak dimulai dari hal sekecil apapun itu dengan mempositivekan setiap harapan kita...tanpa terlalu muluk terobsesi HARUS BERHASIL, positivisme berbeda dengan muluk dan terobsesi :), in short positivisme itu bijak tapi muluk/obsesive itu gegabah nyiahahahaha

    eh serius nih mao bikin buku, kalo ada ruang berbagi ide saya mau tuuh xixixi, gaya tulisan saya cenderung slengean, sudah berusaha formal tetap saja ada bubble yang cengegesan....karena memang begitulah SW xixixi

    so jangan gundah lagi mbak indri, semua baik baik saja koq hehe

    BalasHapus
  5. Mas SW..saya beneran minta koreksi, karena terkadang kita bisa melihat diri kita dari kesan orang lain... ^_^

    Okeh.. untuk Buku .. nggak tahu nich, belum ada feedback lanjutan, nanti kalau sudah ada, n kita perlu poin2 yang "Mak Jleb" kayaknya kita perlu kolaborasi...

    atau gini ni mas.. ehmmm... kalau rencana buat buku antara kami bertiga ngga jadi, gimana kalau kita berdua yang buat buku..
    saya yang agak serius.. sedangkan mas Eko untuk yang kocak abis.. hahahahaaa.... kayaknya bisa jadi buku panduan The Explorer untuk Beasiswa yang menakjubkan... Antara SW dan SH... hahahahaha... gimana2 :D

    sy coba hub. mbak Rini dan mbak Ratih dulu yak....kl ga da kabar, Mas SW siap nggak untuk membuatnya, kolaborasi gituh..? haha :D

    BalasHapus
  6. Dan Alhamdulillah.... Penantian kita terjawab ya maasssss... We Got It.. Walaupun terpisah Jakarta Bali... C U in OZ.. Aminnn Semoga Allah memberi kemudahan dan kelancaran :)

    BalasHapus

Posting Komentar

silakan Berkomentar

Postingan populer dari blog ini

JANJI ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

MINYAK KAPAK - TRADISI KELUARGA..TAPI BUKAN DI DALAM BUS