What?! SABAR!!!!

Hari ini hari pertama Ramadhan…
Tapi makna ”SABAR” itu benar-benar kurasakan.
Pukul 14.45
Aku terbangun dari tidur siang di wisma mungil ”Laa-Tansa”, tidak terasa, aku sudah tidur sekitar satu jam.
Belum sepenuhnya mata ini membuka, aku sudah melihat senyum tipis adik kosku di daun pintu kamarku. Sebentar kemudian, menghilang...Ia sedang ke kamar mandi mungkin, soalnya aku mendengar gemericik tak teratur dari kamar mandi.
Dengan sedikit terhuyung karena masih agak pusing, aku duduk di depan pintu kamarku. Adik kosku (sebut saja Roro) sedang duduk di depan pintu kamarnya. Memegang HP.Akupun duduk di depan pintu kamarku, mengumpulkan energiku yang baru terkumpul separo. Jarak kamar kami berdekatan...
”Senpai...(sejenis panggilan ”kakak” ala Jepang)” kata Roro memulai percakapan.
”Iya dek”
”Mas A nggak jadi ngontrak rumah ini.”
Deg... Tiba-tiba aku tercenung. Nothing to say. Aku masih sedikit tidak percaya, tapi tetap berusaha menjawab dengan nada yang datar-datar saja. Situasi yang memancing emosi seperti ini sudah terbiasa aku alami. Dan Alhamdulillah, aku sudah banyak belajar dari kejadian-kejadian yang hampir sama.
Tahun ini, kami memang akan pindah dari kos-kosan kami yang sekarang masih kami huni. Kemaren kami sudah bersih bersih, angkat-angkat barang ke wisma yang baru. Aku ke wisma Salsabila, Roro dan Popo ke wisma Naylufar. Beberapa hari ini, aku masih tidur di kosku yang lama ini, nunggu teman-teman yang di kos baruku pindah dulu, baru nanti aku bisa beres-beres kamarku yang baru dan tidur di kos baru.
”Mbak Sudah Feeling Dek, pasti dia gak jadi..”
”Afwan ya Senpai, ini Salah Roro..., kemaren2 itu Mas A bilang mau ngganti rumah ini kok. Dia mau nempatin, katanya mau dipakai buat bisnis setahun ke depan, tapi tadi malam waktu aku pastikan lagi, dia malah dengan entengnya bilang kalau Nggak jadi.”
Aku menarik nafas panjang.,,,Hufhhhh..sabar Ndri, sabar... batin kecilku menenangkan.
”masalahnya begini Dek...Kita sudah bilang ke Ibu Kos kalau teman kita alias si A itu mau kontrak rumah ini....Dan saking percayanya ibu (maksudnya: ibu kos) ke Kita, Ibu jadi menolak setiap orang yang datang untuk mengontrak rumah ini. Dua hari lalu barusan mbak ngomong sama ibu, kata Ibu, sudah ada sekitar 3 orang yang berminat kontrak rumah ini, tapi semua ibu tolak....Karena Ibu percaya sama kita...” kataku datar
”Iya Senpai... Roro juga bingung, Dulu itu, si A udah memastikan kalau jadi ambil rumah ini, dari awal... si A juga tidak keberatan dengan biaya sewanya...tapi nggak tahu kenapa, Dia benar-benar tidak peduli. Waktu Roro tanya aja, dengan santainya dia jawab ”Lho, Aku kan nggak Jadi...Harganya kemahalan..gitu Senpai. Kata Roro
”Tapi dulu dia nggak keberatan kan dengan harga sewa rumah ini...?”tanyaku
”nggak Senpai”Suara Roro nampak tertahan.. ”Gimana ni senpai? aku jadi nggak enak sama ibu.” lanjutnya.
”Mbak Juga bingung dek..Nggak enak sama Ibu, Ibu dah percaya ke kita. Lagipula, si A itu harusnya juga konfirm ke kita kalau dia nggak jadi...” kataku berusaha berucap dengan nada tenang. ”Udah pernah bilang ke Roro belum masalah ia Cancel kontrak rumah ini?”
”Nggak pernah senpai,... Roro sering SMS menanyakan kepastian, tapi nggak dibales, anggapan Roro ya dia Jadi kontrak rumah ini, soalnya dulu itu di bilang mau dan nggak keberatan untuk biaya sewanya kok..,dia dulu juga udah sempat lihat-lihat rumah ini Senpai, dan dia memang menyanggupi. Terus, beberapa hari ini kan Roro SMS dia, karena soal kapan dia pindahan ke rumah ini, malah nggak pernah sekalipun SMS Roro dibales. Malah waktu Roro tanyakan kenapa SMS nggak dibales, dia hanya bilang ”SMS mana? SMS nggak penting gitu kok di bales”... gitu Senpai. Terus gimana senpai, Roro bingung, pengen marah...”
”Udah dek, nggak ada gunanya marah... Mbak sebenarnya juga agak emosi, tapi mbak nggak bisa marah, nggak ada gunanya marah di saat seperti ini.” kataku, ”mbak juga paling nggak enak sama ibu, dari kemaren kita selalu meyakinkan ibu kalau teman kita itu jadi ngontrak rumah ini buat kos-kosan, tapi ternyata malah nggak jadi... dan ibu sudah menolak banyak orang .... ” aku menarik nafas panjang.” dan lagi... ini sudah dekat dengan hari-hari masuk kuliah, mencari pengganti si A sudah kesulitan, soalnya pasti kebanyakan dah pada dapet kos, kemaren saja waktu ada yang nanya sini, ibu langsung merekomendasikan kos-kosan pak Amin, dan akhirnya, Anak-anak yang tadinya mau kos di sini.... nggak jadi. Itu karena Ibu menjaga perasaan kita dan sudah sepenuhnya percaya pada kita..” aku terhenti sejenak, nada bicaraku masih kuatur sedatar mungkin, kalau nadaku sedikit meninggi saja, bisa-bisa aku malah menambah tidak enak perasaan Roro. ”Roro yakin, Si A nggak jadi kos di sini?” lanjutku
”Iya mbak, dia itu cuek.... tidak punya rasa bersalah sedikitpun.”
”Roro udah bilang kalau Ibu kos kita sudah menolak banyak orang karena percaya dia mau kontrak tempat ini?” tanyaku lagi.
”Nggak mbak, Roro belum bilang, soalnya... waktu kemaren ngomong sama si A dan dia bilang kalau nggak Jadi kontrak dengan nada cuek, Roro langsung pergi ninggalin dia, soalnya udah tersulut pengen marah..satu yang Roro sesalkan mbak..Mbok ya dia itu bilang jauh-jauh hari kalau emang nggak jadi kontrak rumah ini, lha ini, kalau nggak ditanya dia nggak njawab...”
”Mbak jadi pengen ketemu si A Ro..” Kataku, aku memang belum pernah ketemu si A... aku tahu anak Itu dari Roro, karena dia memang partner Roro di ajang enterpreunership yang tengah dirintisnya.
”Boleh mbak.. tapi percuma.. dia akan ngeles..”
”Maksud Roro..?”
”Iya, kemaren aja dia bilang kalau dulu nggak pernah bermaksud ngontrak rumah ini... terus dia juga bilang kalau harga sewa rumah ini mahal...dan banyak lain sangkalannya mbak... kalau seperti ini, aku malah yang lebih tidak enak sama Ibu mbak,...soalnya dia itu kan aku yang ngusulin dan aku juga yang bilang ke Ibu kalau dia bakal ngontrak rumah ini.” Wajah Siw bermuram durja, tapi dia berusaha bersikap wajar dan tersenyum. Aku sudah hafal betul bagaimana adek-adek kosku itu... ah, mereka memang Subhanallah...Tapi tetap saja kalian tidak bisa membohongi mbakmu ini dek..
”Terus bagaimana dek...?”
”Gini aja mbak, ini tanggung jawab Roro, Roro akan coba hubungi teman-teman, sapa tahu ada yang berminat kontrak tempat ini?”
”Ok, mbak juga coba kontak teman-teman mbak ya...” kataku tanpa menunggu jawabannya, aku langsung menelepon dan menghubungi beberapa temanku, mereka juga mau membantu mencarikan penghuni baru di tempatku. Roro juga tengah sibuk menghubungi teman-temannya.
”Roro..” kataku halus setelah menghubungi dan menunggu kepastian dari teman-teman yang memang jawabannya masih belum pasti-mikir dulu katanya.
”Ya mbak..”
”Gini aja dek, kalau sampai sore ini makasimal buka puasa, kita belum mendapatkan pengganti si A, kita ngomong jujur aja pada ibu sore ini. Sambil kita ngasih bingkisan buat Ibu.” kataku sambil menunjuk Bingkisan dalam plastik putih di sebelah kamarku. Bingkisan itu special akan kami berikan ke Ibu sebagai ucapan terimakasih dan ucapan sambut ramadhan yang aku beli tadi malam sama si Popo. Adik kosku juga.
”iya mbak, sepakat... sementara, Roro akan promosi ke teman-teman juga.”
”Ok.” Kataku.
Tiba-tiba wajah teduh dan sederhana ibu (ibu kosku) terlihat jelas di depan mataku. Ah, ibu, maafkan kami..belum bisa menjaga amanahmu...
Kataku sambil menunggu keajaiban ayat Allah yang berarti ”Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.” Amin ya Allah. Batinku penuh harap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANJI ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

JEJAK LANGKAH KAKI LELAKIKU