TEMAN SEJAWAT BERMASALAH ??!!

Original by: Sri hindriyastuti


Secara sederhana, teman sejawat bisa diartikan sebagai teman satu profesi. Dalam kode etik keperawatan, hubungan antara perawat dan teman sejawat dijabarkan dalam kode etik keperawatan yang meliputi dua poin utama sebagai berikut:

1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal

Berfokus pada poin pertama kode etik keperawatan yang menyoroti hubungan antar perawat di lahan klinik, kita akan mencoba memaparkan fenomena hubungan teman sejawat dalam keperawatan dalam dunia nyata. Benarkah kode etik keperawatan poin pertama tersebut sudah mampu diaplikasikan secara baik oleh para perawat? jawaban yang pasti adalah BELUM. Ada banyak sekali masalah yang muncul antar perawat, terutama karena alasan background pendidikan yang berbeda.

sebagai cotoh simpel, saya akan mencoba flash back beberapa waktu yang lalu, ketika saya masih berstatus sebagai "mahasiswa S1 keperawatan". Saya menekankan kata S1 karena kata ini memiliki signifikansi yang tinggi terhadap hubungan sejawat keperawatan yang bermasalah tersebut.

masalah pertama yang muncul akibat kata "S1" tersebut adalah bermasalahnya hubungan sesama praktikan keperawatan yang menjalani praktek klinik keperawatan di sebuah rumah sakit yang sama. Ada GAP atau jurang pemisah yang seolah menganga diantara kami (saya sebagai wakil dari S1 keperawatan) dan beberapa mahasiswa D3 - sebagai contoh saja. Terkadang, teman-teman D3 keperawatan merasa lebih pandai dalam hal praktek pelayanan keperawatan kepada pasien dibandingkan kami para S1 keperawatan. Saya sempat miris ketika ada salah seorang mahasiswa D3 keperawatan yang mengatakan "Ah, S1 paling cuma bisa teori saja, praktek di lapangannya NOL BESAR!". Begitu pula sebaliknya, saya melihat fenomena takabur dari beberapa S1 Keperawatan yang merasa lebih senior dan lebih pintar dibanding teman-teman D3 Keperawatan. Sayapun miris ketika mendengar seorang rekan sesama S1 mengatakan "Ah, anak-anak D3, paling nanti cuma jadi perawat aja sok gitu, mendingan kita dong S1, lapangan kerja kita lebih luas, bisa jadi dosen, perawat atau tenaga kesehatan lain".

pemikiran-pemikiran seperti inilah yang akhirnya mengkotak-kotakkan kita pada strata yang seolah-olah berbeda, padahal kita berasal dari rahim yang sama, pendidikan keperawatan.

Fenomena ini masih belum seberapa, masalah teman sejawat tidak hanya muncul di kalangan sesama praktikan mahasiswa keperawatan, parahnya lagi, hal ini muncul antara perawat rumah sakit dengan para mahasiswa keperawatan yang praktek di tempat yang bersangkutan. Perawat vocasional (perawat pelaksana) di rumah sakit, terkadang memandang kami para S1 Keperawatan sebagai saingan mereka. Ya, sebagai saingan. Kami, para mahasiswa yang masih membutuhkan bimbingan ini dianggap sebagai saingan kerja. tahukah teman-teman alasannya?

Setelah mencari informasi ke beberapa perawat, saya akhirnya faham alasan kenapa kami dianggap sebagai saingan. Seorang perawat rumah sakit berkata " Kalian sich enak, masih muda, kuliah S1 keperawatan terus nanti kalau lulus dan bekerja di rumah sakit, kalian langsung jadi kepala ruang! enak bener kalian! padahal kami yang ebkerja siang malam bertahun-tahun tidak bisa semudah itu menjadi kepala ruang!".

saya hanya terbengong mendengar pernyataan salah seorang perawat tersebut. "KEPALA RUANG?" bahkan terbersit dibenakpun untuk menjadi kepala ruang begitu lulus kuliahpun tidak ada sama sekali. Saya jadi semakin bingung. Sepertinya pemahaman tentang kami sebagai tunas-tunas penerus generasi keperawatan masa depan masih belum tertanam di jiwa para perawat rumah sakit tempat kami praktek. Sungguh sangat Ironis!. bagaimana tidak ironis, akibat paradigma para perawata yang menganggap kami sebagai saingan itu malah membinasakan kami. Kami sulit bergerak bebas, menjalin hubungan yang hangat dengan sesama perawat, sosok yang sangat kami harapkan bisa membimbing kami.

Saya sering iri dengan profesi dokter, dan semoga kita mampu berkaca dari profesi ini demi kemajuan profesi keperawatan di masa depan. Setiap kali di rumah sakit untuk praktek keperawatan, saya melihat begitu kompaknya profesi kedoteran, mereka saling menghargai, membimbing. Para dokter, akan dengan senang hati memberikan ilmunya kepada para dokter muda, mengadakan diskusi kecil dan forum tanya jawab serta saling menghargai spesialisasi masing-masing. tak ada masalah antar sejawat. apalagi sampai saling mengiri dalam hal negatif.

Jika profesi keperawatan ingin menjadi profesi yang besar, kita butuh orang-orang dengan pemikiran besar, yang mampu dan sanggup berjalan bersama, beriringan, saling menghargai sebagai sesama bidang keperawatan. Jika tidak, kita selamanya akan berkutat pada hal yang aklhirnya menjerum,uskan kita pada kemunduran. Untuk itu, mari teman-teman, kita benahi diri kita, menghargai rekan kita walaupun berbeda background pendidikan, entah SPK, D3, S1 atau bahkan lebih tinggi lagi. Mari kita fikirkan satu hal, bahwa kita berada dalam sebuah naungan yang sama yaitu "KEPERAWATAN". Sebuah profesi yang sudah selayaknya kita banggakan dan majukan, demi siapa? demi profesi kita sendiri dan demi pasien sebagai fokus utama pelayanan keperawatan. ^_^


Teman Sejawat Bermasalah

Sbr gbr: http://blogs.unpad.ac.id/tencommunity/?page_id=190

Komentar

  1. salam kenal kak..

    terima kasih buat artikel ini..
    ini amat sangat membantuku mengerjakan tugas. dan pengalaman kakak juga pernah kami rasakan sekarang.

    sekali terima kasih.
    semoga kakak sukses.
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Ririn,

      salam kenal juga ya ^_^

      sukses juga untuk Ririn ya ^_^

      Hapus

Posting Komentar

silakan Berkomentar

Pos populer dari blog ini

JEJAK LANGKAH KAKI LELAKIKU

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

MINYAK KAPAK - TRADISI KELUARGA..TAPI BUKAN DI DALAM BUS