UANG DAN UANG

Dear matess,

tulisan ini saya buat dengan "based on TRUE story".

Jadi begini, di desa saya, sebuah desa imut nan Menawan di bagian tenggara kota Pati, banyak sekali rumah besar dan mewah. Mewah di sini bukan sekedar Mepet Sawah, tapi benar-benar mewah.

Banyak rumah berpagar tinggi, ber latar luas dengan arsitektur modern. Tapi jarang dihuni karena salah satu anggota (suami atau istri) merantau ke negeri orang, tidak hanya dengan alasan demi sesuap nasi, tapi demi Harga diri dan Memperkaya diri.
___

Saya teringat jelas dengan perkataan beberapa orang:

Orang 1 : "Buat apa sich sekolah tinggi-tinggi, banyak orang yang tidak sekolah di desa ini, merantau ke negri orang, dan uangnya juga banyak, ratusan juta, rumahnya bagus-bagus. Buat apa sekolah?

Orang 2 : "Perempuan juga buat apa sekolah? yang penting pinter dandan, lulus SMP nikah.. toh anakku juga sekarang jadi orang Mulya, kaya, suaminya perantauan. uangnya banyak. Tidak perlu sekolah tinggi!"

Orang 3 : "Si X dan si Y juga sekolah, S1 lulus.. tapi kerjaan ya pada susah, padahal sekolahnya mahal. Buat apa sekolah? cuma buang-buang uang, lulus juga masih pada susah tuh hidupnya.

Orang 4 : "Tiap pulang anak saya itu minta uang, kuliah kok uanggg terus, kalau bukan masnya yang nyekolahin, nggak bakalan saya restui. mending mbok kayak teman-temannya. merantau uang ratusan juta. si X saja uangnya sudah mau satu Milyar!

Orang 5 : "iya kalau sekolah gratis terus dan dapat beasiswa kayak anakmu itu, lulus juga langsung kerja, kamu nggak usah keluar uang, bisa buat bangun ini itu, beli ini itu.. lha kalau kayak yang lain, sekolah pada bayar selangit, nggak dapat beasiswa, kerjaan susah!"

well, siklus seperti ini di mana tidak perlu sekolah untuk mendapatkan uang melimpah, hidup mewah semakin menjadi sebuah mata rantai tak terputus yang menguatkan statement "untuk tidak melanjutkan sekolah (hanya sampai SD dan SMP) ". Saya merinding melihat fakta yang nyata di zaman modern ini.

Mendengar berbagai versi pendapat beberapa orang tentang "MENGENYAM PENDIDIKAN" yang diceritakan oleh kakak sepupu saya ketika saya pulang kampung itu, mengusik hati saya.

WHY?

Ada sebuah perasaan campur aduk.

yang paling saya fikirkan adalah perasaan Ibu Bapak saya yang setiap hari mendengar kata-kata penga-gungan uang dari segala arah dan mengucilkan pendidikan. Untunglah Bapak saya adalah orang yang sangat mendukung dan dari dulu memotivasi anaknya untuk sekolah tinggi. Bagi bapak, pendidikan itu memuliakan orang dibanding apapun. saya setuju sekali.

Kalau boleh jujur, memang bisa dihitung jari anak perempuan di desa saya yang sekolah sampai universitas. saya masuk di dalamnya.

Hal lain yang semakin menguatkan saya untuk sekolah adalah sebuah kesadaran pribadi saya bahwa "Pendidikan itu bukan sekedar mengajarkan matematika, tapi Akhlak dan hal baik lain."

Poin yang merisaukan saya adalah tentang fakta bahwa banyak orang masih menjadikan "UANG" sebagai tolak ukur keberhasilan seseorang. well, mungkin hal ini benar dalam sesi khusus, tapi keberhasilan sesungguhnya adalah ketika orang faham banyak hal tentang kehidupan, memandang dari segi yang luas, bukan sekedar dari sisi MATERI.

Okay, pada kesimpulannya, apakah semua kata-kata itu menyurutkan semangat saya untuk belajar?

Tidak tentu saja. Saya merasa mendapatkan banyak hal dari PENDIDIKAN. 

Uang bisa dicari dan dihasilkan dari PENDIDIKAN, tapi akhlak, pengetahuan dan banyak hal, tidak bisa dihasilkan dari uang kecuali uang itu dipakai untuk investasi pendidikan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANJI ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

MINYAK KAPAK - TRADISI KELUARGA..TAPI BUKAN DI DALAM BUS