KETIKA BEASISWA TIDAK BISA KAU ANDALKAN

Bismillah
Kumulai lagi menggores kata yang bisa menjadi kenangan di masa tua nanti
-----
Angin mulai merambat memenggerayangi dedaunan zaitun di musim dingin Adelaide.
Tidak terasa, sudah setahun kakiku meninggalkan kota cantik yang memberikan kenangan-kenangan penuh pembelajaran ini.
Masih tetap sama,
Kesunyiannya, atau
Hawanya yang selembut kristal es, yah, inilah sambutan musim dingin di Australia selatan.
Masih tetap sama,
aku datang dengan status "single".
walaupun di Indonesia aku sudah punya suami shaleh dan seorang bidadari kecil yang shalehah insyaAllah.
Masih tetap sama,
dedaun callitris yang tegar menjulang mencakar angkasa, atau sekedar bangunan-bangunan tua yang tidak bisa kembali merasakan suasana hangat musim lainnya.
Masih tetap sama,
aku menjumpai senyum anak-anak kecil pelipur lara,
Kayla dan Nada, yang membuatku semakin rindu Jaseena ku.

Yang berbeda adalah,
perasaanku,
yang merasa begitu rindu dengan Aman-ku.
Syahrial Aman dan Jaseena Hifdziya Aman.

Yang berbeda adalah,
Dulu aku tinggal dengan Keluarga Indonesia yang menghangatkan,
Mbak Nanda dan Pak Dicky
sedangkan sekarang, aku tinggal di seberang rumah mereka,
tak begitu jauh, hanya beberapa jengkal saja.
Tapi terasa berbeda,
kehangatan sebuah heater, dengan kehangatan sebuah keluarga, tentu saja berbeda.
bukan begitu sobat?

Well, sekarang kita akan mulai berbicara lebih serius.

Yang berbeda lagi adalah
dulu ketika aku datang, establishment allowance dari beasiswaku hadir menyambutku.
Aku tidak perlu kuatir.
Lumayan banyak jumlahnya.
Untuk ukuranku, bisa dikatakan banyak sekali. Tapi kini tidak lagi.
Setelah cuti satu tahun ini, ada sebuah pembelajaran berarti yang harus aku garisbawahi. Yah dulu, waktu aku ambil cuti dan kembali ke Indonesia, aku tukar semua uangku ke rupiah, hanya menyisakan beberapa ratus dolar saja (untuk hitungan rupiah masih beberapa juta). kukira cukup.
But No, absolutely Not enough!

lain dulu lain sekarang.
dulu aku tinggal dengan orang Indonesia yang mana tentu saja berbeda dengan tinggal di kossan orang bule. kalau dulu aku share house sama orang Indonesia, bayar kos bisa kapan-kapan saja, bahkan bisa menyusul nanti saja hingga uang beasiswa keluar.
Tapi sekarang tidak.
Aku tidak lagi share house dengan orang Indonesia.
Aku sekarang tinggal disebuah (sebut saja) "Kos-kosan" punya orang Bule Australia.
Dengan uang yang hanya beberapa ratus dollar saja, aku harus bersiap-siap "merana" (sedikit exagerated). :)

Yah, mungkin di Indonesia kita bisa tenang saja dengan uang tiga atau empat juta untuk bisa bertahan hidup sebulan. tapi tidak di sini.
Kos-kosan punya orang bule ada aturannya sendiri. aturan itu sudah baku dan ditetapkan resmi oleh pemerintah. jadi mereka tidak membuat aturan sendiri. mulai dari aturan pembayaran higga jaminan ketika kita menempati sebuah tempat kos.
Tempat yang kutinggali kali ini adalah sebuah rumah dengan lima kamar, terdiri dari satu orang mahasiswa asal korea, satu orang dari china, 1 orang Laos, 1 orang vietnam dan ada seorang Indonesian, tapi aku baru kenal. (maklum saja, cutiku setahun untuk hamil dan melahirkan termasuk cuti lama, jadi banyak mahasiswa baru yang aku tidak kenal, kecuali mereka yang sedang ambil S3, masih di sini 2 tahunan lagi, jadi aku masih menjumpai mereka).

Begitu menempati kosku yang baru, aku sudah harus tanda tangan kontrak dengan Charmen, si punya rumah. Bayar kos harus di awal dan hasus ada jaminan (bond). Selain harus bayar uang kosan sebesar $300 /2 minggu yang setara dengan 3 jutaan. aku juga harus bayar Bond sebesar 300$ juga. uang Bond ini dibayarkan sekali di awal, sebagai jaminan kalau ada barang yang rusak di kamar, maka akan dipotong dari uang tersebut, kalau sampai kita selesai kos di sana ternyata ndak ada barang yang rusak, pas kita mau pergi, uangnya masih tetap utuh. dibalikin lagi ke kita. untung di akhir, tapi berat di awal bagi penerima beasiswa yang uangnya belum keluar seperti diriku ini.

Sempat bingung juga, karena menunggu uang beasiswa yang masih dua minggu lebih baru keluar dan uang di tabunganku sudah menipis, alias tidak cukup jika dipakai untuk bertahan hidup hingga beasiswa menghampiri. Untuk saat-saat seperti ini, akhirnya aku putuskan membuka celengan receh yang sudah aku simpan setahun lalu waktu aku ada di sini. Alhamdulillah lumayan membantu. tapi ini hanya untuk masalah sehari-hari.

kalau untuk kos-kosan tetap harus butuh banyak bantuan. Alhamdulillah, aku punya saudara-saudara yang sudah seperti keluarga, di saat seperti inilah, mereka dengan siap sedia membantuku. Yah.. gimana lagi. hidup di negeri orang, kalau beasiswa belum keluar dan belum kerja sambilan serta uang menipis, tetap saja ada tangan-tangan luar biasa. semoga semua urusan mereka di dunia dan di akhirat senantiasa dimudahkan oleh Allah. Amin.

Yah, akhirnya dari hal ini saya belajar beberapa hal penting berikut ini:

1. Ketika cuti ke Indonesia, jangan tukar semua uang dollar di rekening kita ke rupiah. Aku dulu kuatir kalau rekening bank di Australia bakal di tutup selama kita di Indonesia, ternyata masih aktif (hingga lebih dari tiga tahun kita tidak pakai, barulah non aktif)

2.Hubungi koordinator beasiswa, siapa tahu salary beasiswa bisa dicairkan lebih awal, jika tidak berhasil juga, jangan ragu minta bantuan ke teman Indonesia, karena ketika kita di negeri asing, mereka adalah keluarga kita, (Tapi ingat, begitu uang beasiswa turun, jangan lupa dibayar) hehe.

3. punya celengan untuk uang receh-receh kita ternyata ada manfaatnya, ketika kita butuh, bisa kita bongkar. hehhehehe



 gb: tidak selalu penerima beasiswa A*S itu jutawan :P




Komentar

Pos populer dari blog ini

JEJAK LANGKAH KAKI LELAKIKU

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

MINYAK KAPAK - TRADISI KELUARGA..TAPI BUKAN DI DALAM BUS