What do you think? mahasiswa gelisah menjelang Ujian?


Dear all,

pernah mengenyam bangku kuliah? or at least bangku sekolah?

Bagaimana perasaan anda ketika menjelang ujian?

Hectic? Cemas? Galau? Takut? Depresi?

Itu juga yang saya rasakan ketika masih berstatus jadi "murid" or "mahasiswa"

sekarang, ketika saya hendak mengujia mahasiswa, seolah saya merasakan apa yang mereka rasakan.

Hari ini, full satu hari saya ada penilaian mahasiswa:

okey, saya jabarkan aja yak:

Pagi mpe Duhur = penilaian praktek SP (Strategi Pelaksanaan) buat mahasiswa untuk bisa berkomunikasi dengan pasien gangguan Jiwa,You know what? wajah mereka tampak mengkerut. takut, cemas.

makanya, untuk mengurangi efek cemas seperti ini, saya ajak mereka cari tempat di luar kelas mereka. dan LABS-skill menjadi alternatif terbaik, selain ada tempat luas dan lapang di lantai 1, mereka setidaknya tidak bernuansa kelas yang vmenurut kacamata mereka adalah hal yang horor menjelang ujian seperti ini.

dengan lesehan, saya persilakan mereka ujian, tiap pasangan yang sudah siap untuk ujian, saya dampingi untuk penilaian.
melihat wajah mereka yang tampak cemas, maka saya menghentikan proses penilaian dan bertanya.

"Adakah yang sekarang merasa khawatir? deg-degan? was-was? takut?"

Hampir semua tangan mengacung ke atas.

kekhawatiranku muncul, kenapa mahasiswa pada cemas menjelang proses penilaian? Ujian harusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi mereka. bukan sebuah beban.

Akhirnya saya berujar :

"Okey, kalau semua mau ujian hari ini dan pengin dapat nilai bagus, Maka, jangan cemas.. dibuat fun saja.. fikirkan seolah hari ini adalah latihan anda sebagaimana anda berlatih di kos."

semua mata memandang saya.

Okey, anggap saya adalah teman anda, bukan penilai anda. Okey" kata saya, saya hanya tidak ingin karena kecemasan mereka, maka prosedur yang harusnya mereka lakukan banyak sekali yang terlupa sebagaimana saya kemaren menilai mahasiswa kelas lain yang juga melewatkan banyak prosedur, bukan karena ia tidak pintar, bukan karena ia tidak belajar, tapi karena ia takut dan cemas.

Mendengar itu, banyak yang bernafas LEGA. saya lebih suka begitu. dengan demikian,akan enak bagi mereka untuk bereksplorasi.

Ujian SP:


Case ke 2: jam 1 siang sampai jam 4, saya masuk kelas rintisan internasional kelas:
hari ini penilaian presentasi "Identifikasi Jurnal" untuk 4 kelompok (kelompok selebihnya sudah dinilai oleh pak Noer), ada juga juga penilaian Roleplay Tindakan keperawatan untuk Modul regulasi.

dan lagi-lagi, suasana angker menyelimuti kelas, meskipun saya sudah membuka kelas dengan welcome, tapi tetap saja. akhirnya, saya menilai dari barisan paling belakang. berharap agar mereka tidak menganggap saya memonitor presentasi mereka secara langsung di hadapan mereka. tapi saya menilainya dari baris paling belakang.

Saya menggunakan peraturan "suasana kelas INFORMAL" jadi sementara kegiatan berjalan dengan sesuai aturan, tapi suasana nyaman dan tidak terkesan diawasi saya terapkan.



saya benar-benar ingin agar kelas ini mengedepankan kekeluargaaan, pembelajaran, dan saling mensupport.

Selanjutnya, abis asar, jam 4 - jam 6 sore, saya penilaian ujian Praktek Klinik keperawatan dasar di laborat ruang Holistik.

prosedur yang mereka lakukan untuk sore ini sebenarnya sederhana, pemeriksaan kulit kuku, leher , Genetalia, rektum dan Anus pasien dengan menggunakan manekin. tapi.. untuk hal simple kayak begini mereka takutnya minta ampun, terbukti untuk menunjuk siapa yang pertama kali maju ujian saja saya harus menunggu lama.. walhasil, waktu terbuang hampir 15 menit.

akhirnya dengan menggunakan peraturan yang sama - yaitu meminta mereka untuk rileks, saya mengajak ngobrol mereka sebagaimana teman, dan memberikan beberapa masukan terkait hasil yang kurang dengan cara seolah mereka adek kandung saya
terbukti, suasana yang tadinya serem berubah drastis menjadi suasana yang menyenangkan. tapi tetep..mereka begitu menghormati saya, walupun terus terang saya tidak menginginkan penghormatan yang berlebihan. saya lebih suka dianggap sebagai kakak. karena dengan begitu, mereke akan terbuka kepada saya.

alhamdulilah, sekarang banyak sekali mahasiswa yang kontak saya jika mereka mendapatkan kesulitan, dalam akademik maupun masalah pribadi, saya tahu saya tidak sepenuhnya memberi solusi, tapi setidaknya memeberikan waktu untuk mereka berbagi itu sudah melegakan hati mereka.


Mahasiswa adalah aset, ladang bagi kita berbuat baik, jika mahasiswa lebih pintar dari Guru/ dosen, itu adalah sebuah kesusksesan untuk guru karena berhasil memotivasi mahasiswa untuk senantiasa belajar dan mengembangkan diri, dengan demikian, dosennya juga nggak mau ketinggalan utnuk terus belajar. slaing belajar.


dosen PSIK UNDIP

Bersama rekan kerja:











Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANJI ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

MINYAK KAPAK - TRADISI KELUARGA..TAPI BUKAN DI DALAM BUS