Tangisan idul fitri

Malam ini adalahsaat dimana ramadhan harus berakhir. saat ini adalah malam d mana sebuah pagi yang bertaburkangema takbir dan berbalut shalat Ied akan bersemayam indah. Dan malam ini juga, tembokpun ikut menangis..memberikan rintik-rintik embun basahnya. bagaikan peluh keringat yang tak terseka. bagaikan airmata rindu yang tak tertahan.
ya, uap yang terbang dari panci dapur berisikan lontong-lontong idul fitri yang menyambut datangnya pagi itu menyapa dinding dan menekan air mata peluh keluar darinya.

malam semakin berlari, berkejaran dengan waktu yang menyapa hari. kudengar masih ada takbir berkumandang dari channel radio yang diputar oleh pak Dicky. sementara mbak Nanda, sang istri tercinta masih menekuri kue-kue berparas putri salju, kastengel dan si corn flakes.

dan aku, menghabiskan waktuku mberkutat untuk bisa memahami rumus setiap adonan. susah-susah gampang. di saat seperti ini, kemampua n mengingat dan berkutat langsung dengan adonan menjadi sebuah hal yanh bersifat wajib ,ain.

Nuansa dingin di Bedford park seolah menguap bersama uap panci dapur. Suasana Australia seolah begitu kentara, ada sebuah kemelut rindu kampung halaman yang menggerogoti relung jiwa. namun, ada sebuah rasa bahagia tak terkira, kami masih diberi kesehatan dan panjang usia dalam menjalani ramadhan tahun ini. semoga Allah mempertemukan kami dengan ramadhan tahun berikutnya dalan suasana yang lebih barakah. amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANJI ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

JEJAK LANGKAH KAKI LELAKIKU