KARENANYA AKU BELAJAR TENTANG CINTA





By: 
Sri Hindriyastuti


Tahun 2005, saya lulus SMA. Waktu itu ada banyak sekali hal yang mulai saya fikirkan. Tentang kehidupan saya selanjutnya, tentang hari-hari baru yang akan banyak saya lalui di usia remaja, tentang pengalaman-pengalaman baru saya dan tentu saja tentang pendidikan saya selanjutnya.
Saya diterima lewat jalur prestasi akademik atau lebih dikenal dengan sebutan PMDK di sebuah Universitas Negeri yang membanggakan di Semarang, Universitas Diponegoro. Saya diterima di fakultas kedokteran, Jurusan Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK). Terus terang saat itu, saya sama sekali tidak menyukai jurusan ilmu keperawatan. Saya ingin sekali masuk di Kedokteran Umum, namun karena keterbatasan pendanaan dari orang tua saya, maka keduanya menyarankan saya untuk memilih program S1 Keperawatan, ”toh sama-sama di bidang kesehatan” kata Ayah saya waktu itu. Bagaimanapun juga, seperti apapun rasa kecewa dan sedih yang saya rasakan, saya tetap meyakinkan diri saya bahwa orangtua saya memikirkan yang terbaik untuk saya. Beberapa kali saya sempat marah dan merasa bahwa hidup saya tidak adil. Saya juga sempat marah kepada kedua orang tua saya karena tidak mengijinkan saya masuk Kedokteran Umum.
Saya berfikir, bahwa jurusan Ilmu Keperawatan adalah sebuah jurusan yang tidak bergengsi dan tidak bisa dibanggakan. Hari-hari yang saya lalui dipenuhi dengan perasaan tertekan karena yang ada di benak saya hanyalah kebencian dan keengganan dengan jurusan yang tengah saya jalani. Saya selalu berfikir, bahwa ketika lulus nanti saya hanya akan menjadi ”PERAWAT”, sebuah profesi yang lebih banyak dikenal oleh masyarakat sebagai ”pembantu dokter”, tidak ada istimewanya sama sekali.
Hari demi hari saya lalui di PSIK Undip dengan penuh penyesalan. Hampir setiap malam saya memikirkan dan membuat strategi agar saya bisa pindah ke jurusan lain. Bahkan saya juga sudah membuat perencanaan matang untuk mengikuti ujian SPMB tahun berikutnya. Saya merasa tidak nyaman kuliah di bidang yang sama sekali saya tidak menyukainya. Sungguh, saya merasa saya adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia.
Satu dua bulan berlalu, namun tidak ada satu halpun yang bisa meyakinkan saya untuk tetap berada, mempertahankan dan meyukai jurusan keperawatan yang tengah saya jalani. Saya hanya berdoa agar Allah senantiasa memberi saya petunjuk. Saya benar-benar bingung. Hingga akhirnya di Mata Kuliah Konsep Dasar Keperawatan I (KDK I), saat dosen saya berhalangan hadir, kami mendapat dosen pengganti dari PSIK Undip sendiri. Nama lengkap beliau Meidiana Dwidiyanti, Beliau adalah dosen perempuan paruh baya, pembawaannya sederhana, dengan jilbab yang selalu nampak manis dan cocok untuk usianya. Melihat postur beliau, saya langsung teringat dengan ibu saya, hampir mirip. Namun ada satu ciri khas dari beliau yang paling saya sukai. Beliau selalu tersenyum hangat kepada kami. Aura yang beliau bawa di kelas kami nampak berbeda. Menurut kacamata pribadi saya.
Ini adalah kali pertama saya mengikuti dosen mengajar dengan penuh seksama. Beliau mengajar kami dengan cara yang berbeda. Yah, benar-benar berbeda. Mungkin karena beliau menangkap adanya rasa malas dan penat kami, karena waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Namun dengan sabar beliau membimbing kami. Beliau tidak mengajar KDK dengan memberi materi seperti yang biasanya saya dapatkan, saya masih ingat sekali bahwa waktu itu, beliau menyuruh kami membentuk lingkaran di kelas kami, saling berdekatan satu sama lain. Dan semuanya dimulai, saya merasa yakin bahwa beliau manangkap adanya rasa tidak nyaman dan tidak nikmat kuliah di PSIK di diri teman-teman saya (teman-teman yang tidak menyukai jurusan ini ternyata banyak, tidak hanya saya. Sebagian dari mereka kebanyakan memutuskan dan memilih keperawatan karena tidak diterima di Kedokteran Umum, intinya, Nursing Science is the Second Choice).
Bu Mei mencoba sharing bersama kami, menggali semua permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa, di kuliah beliau, banyak teman kami yang dengan menangis terisak menceritakan semua keluh kesahnya, yang lain, memberi solusi atau jika kami tidak bisa memberi solusi, semua mendengarkan dengan seksama. Bu Mei mengajari kami betapa sulitnya kita mengungkapkan kesedihan kita, namun lebih sulit lagi ketik kita belajar tentang kesabaran dalam mendengarkan. Beliau mengajari kami tentang bagaimana cara mendengarkan yang baik.
Bu Mei selalu berpesan ”Dengarkan dan dengarkan lingkungan anda, teman, saudara, Orangtua dan satu hal yang kita semua harus pegang ketika kita berhadapan dengan oranng lain yaitu Respect atau menghargai”, kita mendengarkan orang lain, bukan untuk menertawakan kesalahan mereka, kita mendengarkan orang lain untuk memahami perasaan mereka, untuk menghargai mereka, dan untuk menunjukkan kepada mereka keberadaan kita, kesediaan kita untuk memberikan bantuan semampu kita, meskipun kita tidak bisa memberikan bantuan secara materi, tapi yang perlu kita ingat, bantuan dan dukungan moril, terkadang lebih dibutuhkan. Terkadang seseorang tidak membutuhkan penyelesaian dari kita, namun mereka hanya butuh didengarkan, untuk itu, kita harus banyak belajar tentang mendengarkan yang baik. Kita bisa mengatakan, bahwa mendengarkan adalah hal yang mudah, namun kita tidak akan berkata demikian sebekum kita melakukannnya. Belajar menghargai orang lain, dengan begitu orang lain akan menghargai kita, tanpa kita minta.
Bu Mei tidak banyak mengajar kami tentang apa itu definisi KDK, bagaimana menghaafalkan teori-teori dan sejarah keperawatan. Namun beliau lebih banyak bercerita, yang dari cerita beliau tersebut, kami lebih memahmi tentang sejarah dunia keperawatan. Banyak teman saya yang kurang menyukai metode beliau, tapi bagaimanapun juga, setiap perkataan yang beliau sampaikan di beberapa kali pertemuan dalam mata kuliah kami, selalu mengena di hati saya. Dan saya selalu mendengarkan dengan seksama. Menurut saya, bagaimana kita mampu mengambil sesuatu yang berharga itu tergantung pada bagaimana kita mau mencari dan memperhatikan hal-hal kecil disekitar kita yang bisa membawa perubahan dalan hidup kita, itulah sebabnya saya menyukai metode bu Mei mengajar, karena saya selalu mendapatkan sesuatu yang baru di sana. That I never Got Before.
Bu Mei memasuki kelas kami On Time sambil membawa buku yang asing bagi kami, dan kemudian kami tahu bahwa itu adalah buku hasil karya beliau, judulnya ”Caring”. Beliau kembali mengajak kami untuk ”Care” kepada siapapun. Bu Mei menanamkan di benak kami, bahwa profesi perawat adalah profesi yang dituntut untu Care kepada pasien. Kita bisa care kepada orang lain jika kita memilikinya. Maka beliau menanamkan di benak kami agar kami menjadi orang yang selalu bahagia, karena kita bisa memberi kepada orang lain jika kita memiliki. Kami belajar tentang memberi dan peduli. Jika kita memiliki rasa peduli, maka itulah yang bisa kita beri kepada orang lain, jika kita memiliki cinta maka itulah yang bisa kita berikan kepada orang lain, dan sebaliknya, jika kita memiliki rasa benci, maka itu pulalah yang akan kita beri kepada orang lain. Jika kita mau memberi orang lain hal yang terbaik, maka kita harus memperbaiki diri kita. Semuanya bisa memberi kepada orang lain hanya jika ia memiliki hal yang akan diberikan untuk orang lain.
Pada pertemuan berikutnya, bu Mei masih mengampu di kelas kami. Dan lagi-lagi, banyak hal berharga yang saya dapatkan. Saya tidak pernah mengantuk di kelas beliau. Itulah anehnya saya, padahal hampir di semua mata kuliah lain, saya selalu mengantuk. Pelajaran yang saya dapat saat ini adalah tentang mencintai tanpa pamrih.
Kali ini beliau mengajar kami tentang indahnya mencintai. Mengajari kami bahwa sebagai calon perawat yang profesional, tidak hanya dituntut untuk memiliki skill yang bagus, tapi juga harus diimbangi dengan rasa cinta kepada sesama. Dan untuk bisa mencintai, hati kami harus bersih, jauh dari rasa dengki dan marah, kami harus bahagia. Dan yang paling utama, tidak memiliki masalah dengan orang tua. PR yang paling unik dari beliau adalah belajar tentang memaafkan.
Bu Mei pernah memberi kami PR yang unik, yakni harus menyelesaikan permasalahan yang kami miliki dengan orang tua kami. ”jika hubungan anda dengan ornag tua anda tidak baik, maka tolong diselesaikan. Karena anda akan merasa bahagia dan sukses jika mendapat ridho dari orang tua anda, jangan membuat orangtua anda bersedih. PR anda adalah menelepon orang tua anda dan katakan kepada mereka permintaan maaf anda dan katakan pula bahwa Anda sayang mereka. Pertemuan minggu depan saya ingin lihat siapa saja yang mampu melakukannya.”
Dan benar, pertemuan berikutnya bu Mei menagih janjinya, dan di luar dugaan, ternyata yang mengerjakan PR beliau hanya ada dua orang. Dan yang tidak bisa melakukannya ada banyak sekali termasuk saya. Bu Mei hanya tersenyum. ”Saya faham tentang Anda, dan mengapa Anda tidak mau menrgerjakan PR Anda, ada dua kemungkinan, Anda tidak memiliki masalah dengan orang tua Anda atau mungkin Anda malu untuk meminta maaf. Tapi setidaknya, Anda mengucapkan kepada orang tua Anda ”Saya sayang ibu, saya sayang Bapak.” dan adakah yang sudah mengerjakannya? ternyata, hampir tidak ada. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa Anda masih enggan dan malu mengucapkan kata sayang kepada kedua orang tua Anda. Memang kelihatannya hal ini mudah, karena hanya mengucapkan ”Bapak, Ibu, saya sayang Bapak dan Ibu.” tapi, hal ini akan terasa sulit, sulit sekali jika dipraktekkan. Padahal orangtua kitalah yang patut mendapatkan kata ”Cinta dan sayang dari kita. Ok, saya masih memberi PR untuk menelepon Ibu Bapak Anda dan mengatakan bahwa Anda mencintai dan menyayangi keduanya. Karena dengan menghargai, mencintai dn menyelesaikan semua masalah dengan orang tua, bahkan mampu memaafkan kesalahan keduanya akan membuat kita bahagia. Dan semua hal yang kita kerjakan pasti akan terasa tanpa beban, karena kita berjalan dengan ridho keduanya.
Bu Mei lebih mirip seorang motivator sejati, ia melebihi para motivator yang sering diundang ke kampus kami untuk acara penyambutan mahasiswa baru. Ia benar-benar melatih kami untuk menjadi seorang perawat yang berhati mulia. Peduli pada sesama, dan ikhlas membantu daam hal kemanusiaan.
Drai pelajaran-pelajaran bu Mei, saya menyadari, bahwa posisi saya sekarang adalah di Keperawatan Undip. Dan saya harus memaksimalkan apa yang tengah saya jalani saat ini. Tidak hanya jurusan dan profesi lain yang boleh memiliki cita-cita besar. Perawatpun boleh memiliki cita-cita besar. Dan mulai saat itu saya menanamkan tekad di hati saya bahwa saya harus lebih baik, bahwa saya harus menjadi yang terbaik, bahwa saya harus bisa memberikan yang terbaik, bukan hanya untuk diri saya pribadi, tapi juga untuk kedua orang tua saya. Saya harus lebih banyak bersyukur, karena diantara teman-teman saya di desa, hanya beberapa diantaranya yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi termasuk saya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk diam dan pasrah. Saya harus mencintai jurusan keperawatan. Saya yakin pasti bisa. Dan akhirnya sayapun mampu meraih nilai IPK tertinggi di kelas saya saat semester awal, yakni masa dimana saya masih bergelut dengan rasa enggan kuliah di PSIK.
Bu Mei sangat peduli kegiatan sosial dan tulis menulis, berkat beliau, saya tertarik dan senang mengikuti berbagai kegiatan sosial maupun ajang kompetisi menulis. ”Jika Anda ingin mengasah kepedulian anada, maka terjunlah langsung ke masyarakat”, begitu kata bu Mei. Saya mengikuti kegiatan Family Care, Screening TBC, bhakti sosial, ikut kegiatan ekstra kampus dan ikut berpartisipasi dalam berbagai ajang penulisan. Berkat motivasi dari bu Mei tersebut, saya selalu berusaha mengikuti berbagai kegiatan sosial dan kompetisi menulis, walaupun saya kalah berkali-kali, tapi saya optimis, bahwa segala sesuatau diraih tidak mudah. Success is not easy,yang penting jangan mudah putus asa, apalagi menyerah.
Bu Mei, dosen lulusan M.Sc (Jhon Moorse University) – Liverpool-ENGLAND sekaligus sebagai dosen wali saya tersebut mengajari saya untuk berani bermimpi besar. Sampai kahirnya saya memiliki keinginan kuat agar suatu saat nanti saya bisa menjadi professor keperawatan di Indonesia. Sampai saat ini hanya ada dua professor keperawatan di Indonesia. Sungguh disayangkan bukan?
Hal besar yang saya dapatkan dari beliau adalah indahnya berkorban. Kabar terakhir yang saya dapat dari bu Mei adalah beliau diterima S3 di Belanda, namun, karena sekarang beliau menjabat menjadi Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro (dilantik tahun 2008), sehingga studi beliau di Belanda untuk program Doctor tertunda karena tanggungjawab yang beliau pegang sekarang sangat besar. Itulah arti pengorbanan.
Bu Mei selaku dosen wali saya, banyak sekali membimbing saya, dalam segala hal. Beliau bagai ibu ke dua saya. Yang siap menampung dan memberikan solusi dari semua permasalahan saya. Beliau juga yang memberi Letter of Refference untuk saya dalam apply beasiswa short course ke USA. Karena isi Letter of Refference tentang diri saya yang begitu istimewa (saya tidak menyangka beliau faham banyak hal tentang saya), akhirnya saya bisa menjadi salah satu grantee dalam beasiswa tersebut.
Terimakasih bu Mei, tidak ada kata yang mampu saya rangkai untuk mengatakan betapa besar rasa terimakasih saya, Anda adalah bagian dari data inspiring person yang mampu memotivasi saya untuk lebih baik, mencintai, belajar ikhlas, mensyukuri apa yang saya miliki, berkorban.
Terimakasih Ibu, Bu Mei. Anda menyadarkan saya bahwa hidup itu adalah bersyukur, Anda menyadarkan saya bahwa hidup itu harus saling berbagi, bahwa hidup harus lebih banyak memberi dan menghargai serta berkorban untuk orang lain. Berkat anda saya bisa merasakan indahnya jatuh cinta, jatuh cinta pada apa yang saya miliki, bagaimana mencintai orang tua saya dengan lebih baik lagi, bagaimana mencintai sekeliling saya, dan yang paling utama, belajar mencintai profesi Keperawatan yang kelak akan menjadi bagian besar dari kehidupan saya.
Ibu, berkat anda saya menjadi seorang perempuan yang memiliki cita-cita besar, yang ingin memberikan sesuatu yang lebih, untuk orang-orang di sekeliling saya, untuk orang tua saya, untuk Bangsa Indonesia dan suatu saat saya ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa keperawatan di Indonesia bisa dibanggakan. Bahwa generasi–generasi muda keperawatan akan terus tumbuh dan mengembangkan diri. Karena berkat anda sepenuhnya saya menyadari bahwa profesi keperawatan adalah sebuah profesi yang patut untuk dibanggakan. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa profesi keperawatan adalah ujung tombak dunia kesehatan, tidak hanya di Indonesia, namun di dunia. Yah, ”PERAWAT”, sekarang jika saya mendengar kata itu, saya hanya tersenyum bangga karena ia adalah sebuah profesi ladang pahala, ia adalah profesi penuh cinta. Perawat, merekalah yang layak disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa selain guru. Ah, keperawatan, aku telah jatuh cinta padamu.


By: SRI HINDRIYASTUTI

Untuk mengikuti lomba INI:

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANJI ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

PROSES PEMBUATAN TEMPE AL-AMAN (COCOK UNTUK NEGARA 4 MUSIM).

MINYAK KAPAK - TRADISI KELUARGA..TAPI BUKAN DI DALAM BUS